Membangun budaya membaca pada anak tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan perpustakaan. Diperlukan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa tertarik untuk membaca dan menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian mereka. Semangat inilah yang dihadirkan dalam program “Sahabat Perpus” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) Universitas Negeri Malang tahun 2026 di SDN 2 Sananwetan.
![]() |
| Asistensi Mengajar (AM) Universitas Negeri Malang di SDN 2 Sananwetan Blitar |
Program ini berlangsung selama dua bulan, mulai 2 Maret hingga 2 Mei 2026 dengan melibatkan siswa kelas III, IV, dan V. Program ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya budaya membaca siswa serta belum optimalnya pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar aktif dan menyenangkan. Melalui “Sahabat Perpus”, mahasiswa menghadirkan pendekatan literasi interaktif yang dikemas melalui sistem “Bintang Literasi”, sehingga kegiatan membaca menjadi lebih menarik dan partisipatif bagi siswa. Program ini bertujuan menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, meningkatkan kemampuan memahami bacaan, serta melatih keterampilan komunikasi siswa. Kehadiran program juga mendorong terciptanya suasana perpustakaan yang lebih hidup dan mendukung penguatan budaya literasi berkelanjutan di lingkungan sekolah dasar. Selain memberi dampak pada pengembangan kemampuan literasi siswa, “Sahabat Perpus” juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4, Quality Education, melalui upaya penguatan literasi dasar dan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.
![]() |
| Sahabat perpus SDN 2 Sananwetan Blitar |
Kegiatan “Sahabat Perpus” dibuka oleh Ketua Program AM Universitas Negeri Malang tahun 2026, Yunita Sindi Rahmasari. Dalam sambutannya, Yunita menyampaikan bahwa program ini hadir sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca siswa sekaligus mengajak siswa lebih aktif memanfaatkan perpustakaan sekolah. Ia juga berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini dan membuat suasana perpustakaan menjadi lebih menyenangkan bagi siswa.
![]() |
| Pengarahan Siswa SDN 2 Sananwetan Untuk "Bintang Literasi" |
Pelaksanaan program “Sahabat Perpus” diawali dengan pengarahan kepada siswa mengenai tata cara kegiatan dan mekanisme pengumpulan poin “Bintang Literasi”. Mahasiswa pendamping menjelaskan bahwa setiap siswa akan membaca buku pilihan secara mandiri di perpustakaan sekolah, kemudian menceritakan kembali isi bacaan yang telah dipahami. Siswa yang mampu menjelaskan isi bacaan dengan baik memperoleh poin berupa “Bintang Literasi”. Poin tersebut dikumpulkan selama program berlangsung sebagai bentuk motivasi agar siswa lebih semangat membaca dan aktif mengikuti kegiatan. Tidak sedikit siswa yang datang kembali ke perpustakaan untuk menambah jumlah bintang yang mereka peroleh. Selain melatih kemampuan membaca dan memahami isi bacaan, kegiatan ini juga membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berbicara dan menyampaikan pendapat. Interaksi antara mahasiswa pendamping dan siswa membuat kegiatan literasi terasa lebih menyenangkan dan tidak monoton. Pada akhir program, mahasiswa mengumumkan siswa dengan perolehan poin tertinggi. Siswa terpilih menerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi dan semangat mereka dalam mengikuti kegiatan literasi selama program berlangsung. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara mahasiswa dan siswa dengan perolehan “Bintang Literasi” terbanyak.
Program “Sahabat Perpus” mendapat respons positif dari siswa maupun pihak sekolah. Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat antusias mengikuti setiap sesi membaca dan pengumpulan “Bintang Literasi”. Beberapa siswa mengaku lebih senang datang ke perpustakaan karena kegiatan membaca dibuat lebih menarik dan interaktif. Pihak sekolah menilai program ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan minat baca siswa serta menghidupkan kembali suasana perpustakaan sekolah. Kedepannya, pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan serta dapat diintegrasikan secara lebih berkelanjutan dalam kegiatan pembiasaan sekolah, sehingga siswa tetap memiliki motivasi untuk membaca meskipun program telah berakhir.
Sumber :Evrigita Zahra' Kirana
Editor : Ali Mas'ud




0 Komentar