Ad Code

Hubungi Admin=>

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI CAKRAWALA BELAJAR

Resensi Buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoretis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern

Blitar, 27 September 2026

Cover buku Filsafat Pendidikan

Identitas buku:

Judul: Filsafat Pendidikan: Dasar Teoretis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern

Penulis: Dr. Teguh Triwiyanto, S.Pd., M.Pd.

Penerbit: PT Bumi Aksara

Tahun terbit: 2026

ISBN: 9786235061702

Jenis: Buku Referensi

Tebal halaman: 254



Pendahuluan

    Buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoretis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern merupakan karya Dr. Teguh Triwiyanto, S.Pd., M.Pd., seorang akademisi Universitas Negeri Malang yang memiliki perhatian pada bidang administrasi dan manajemen pendidikan. Saat ini, Teguh Triwiyanto tercatat sebagai dosen pada Departemen Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Beliau juga pernah mendapat berbagai tugas tambahan dalam pengelolaan pendidikan dan aktif dalam kegiatan penelitian serta publikasi ilmiah di bidang pendidikan. 

        Pengalaman akademik dan kepakaran penulis dalam bidang pendidikan tercermin dalam berbagai karya yang telah dihasilkan. Beberapa buku yang pernah ditulisnya antara lain Pengantar Pendidikan, Hakikat Manusia, Aliran-Aliran, Sistem, Layanan, & Persoalan Pendidikan, Manajemen Kurikulum & Pembelajaran, Audit Manajemen Pendidikan, Manajemen Hubungan Sekolah Masyarakat, Krisis Tata Kelola Pendidikan Indonesia, Teori Belajar dan Pembelajaran, serta Kuasa Globalisasi dalam Sistem Manajemen Pendidikan Nasional. Penulis juga menghasilkan karya bersama penulis lain, seperti Landasan Filosofis Kebutuhan Siswa dalam Implementasi Merdeka Belajar dan Kepemimpinan Pembelajaran Berbasis Budaya.

        Latar belakang tersebut menunjukkan bahwa buku Filsafat Pendidikan bukanlah karya yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perhatian panjang penulis terhadap berbagai persoalan pendidikan, mulai dari landasan pendidikan, teori belajar, kurikulum, manajemen pendidikan, hingga tata kelola pendidikan. Buku ini diterbitkan oleh PT Bumi Aksara pada tahun 2026 sebagai buku referensi.

        Dalam prakata, penulis menjadikan gagasan Nelson Mandela bahwa pendidikan merupakan senjata yang kuat untuk mengubah dunia sebagai salah satu pijakan pemikirannya. Pendidikan dipandang tidak sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk cara manusia memandang, memahami, dan memaknai dunia. Pemikiran tersebut kemudian dipertemukan dengan pandangan Immanuel Kant bahwa manusia memahami dunia tidak semata-mata sebagaimana adanya, tetapi melalui cara manusia memandangnya.

        Tujuan utama penulisan buku ini adalah menghadirkan kompilasi yang komprehensif mengenai filsafat pendidikan sekaligus menjembatani pemikiran filosofis dengan teori dan praktik pendidikan. Buku ini ditujukan terutama bagi pendidik di perguruan tinggi serta mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Dengan demikian, buku ini tidak hanya mengajak pembaca memahami konsep-konsep filosofis, tetapi juga melihat bagaimana filsafat dapat menjadi dasar dalam memahami teori pendidikan dan penerapannya dalam kehidupan pendidikan.


Gambaran Umum Isi Buku

        Buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoretis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern terdiri atas 14 bab yang disusun secara sistematis, mulai dari pembahasan mengenai hakikat pendidikan hingga refleksi dan prospek filsafat pendidikan di masa mendatang.

Bab pertama membahas hakikat pendidikan. Pendidikan ditempatkan sebagai bidang ilmu yang terus berkembang karena dipengaruhi oleh berbagai unsur, seperti filsafat, budaya, ekonomi, sosiologi, psikologi, teknologi, dan agama. Pembahasan ini menjadi dasar untuk memahami bahwa pendidikan merupakan fenomena yang kompleks dan tidak dapat dipahami hanya dari satu perspektif.

Bab kedua membahas filsafat pendidikan dan teori pendidikan. Salah satu analogi yang menarik adalah penggambaran filsafat pendidikan sebagai peta besar, sedangkan teori pendidikan merupakan rute yang digunakan untuk melakukan perjalanan. Analogi tersebut membantu pembaca memahami perbedaan antara filsafat sebagai dasar pemikiran dengan teori sebagai penjabaran yang lebih operasional. Filsafat memberikan arah, nilai, dan prinsip, sedangkan teori membantu menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam metode, strategi, model, dan praktik pendidikan.

Bab ketiga membahas dasar-dasar filsafat pendidikan, khususnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga konsep tersebut menjadi fondasi penting untuk memahami pertanyaan mengenai hakikat manusia dan pendidikan, bagaimana pengetahuan diperoleh, serta nilai apa yang hendak diwujudkan melalui pendidikan.

Bab keempat menguraikan aliran filsafat umum dan implikasinya terhadap pendidikan. Pembahasan mencakup berbagai pemikiran dari masa Yunani Kuno hingga pemikiran modern, seperti stoisisme, epikureanisme, skeptisisme, eksistensialisme, pragmatisme, dan nihilisme. Pembahasan ini memberikan gambaran bahwa setiap aliran filsafat memiliki konsekuensi tertentu terhadap cara memandang manusia, pengetahuan, tujuan pendidikan, dan proses pembelajaran.

Bab kelima secara khusus membahas tokoh-tokoh filsafat pendidikan. Plato, Aristoteles, John Dewey, Maria Montessori, Paulo Freire, dan Ki Hadjar Dewantara dibahas sebagai tokoh yang memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran pendidikan. Kehadiran Ki Hadjar Dewantara menjadi bagian penting karena pemikirannya dihubungkan dengan konteks pendidikan Indonesia, khususnya gagasan pendidikan yang memerdekakan serta prinsip Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Bab keenam membahas filsafat pendidikan kontemporer. Pembahasan diarahkan pada perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung cepat pada abad ke-21. Filsafat pendidikan tidak hanya diposisikan sebagai pembahasan abstrak tentang hakikat pendidikan, tetapi juga sebagai sarana refleksi terhadap bagaimana pendidikan dapat membentuk manusia yang adaptif, kritis, dan berkeadaban.

Bab ketujuh membahas teori belajar dan implikasinya. Behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, dan humanisme diperkenalkan sebagai perspektif dalam memahami bagaimana manusia belajar. Pembahasan ini menjadi jembatan antara konsep filosofis dengan praktik pembelajaran.

Selanjutnya, Bab 8 membahas teori perkembangan dan pendidikan. Teori perkembangan membantu pendidik memahami pertumbuhan peserta didik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bab 9 membahas teori kurikulum, termasuk kedudukan kurikulum sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.

Bab 10 menguraikan teori manajemen dan organisasi pendidikan. Manajemen pendidikan dilihat sebagai proses untuk mencapai tujuan melalui kegiatan perencanaan, pengorganisasian, kepegawaian, pengarahan, dan pengendalian. Bab 11 kemudian memperluas pembahasan melalui teori sosial pendidikan, yang melihat pendidikan sebagai praktik sosial yang berhubungan dengan struktur sosial, budaya, nilai, ideologi, dan kekuasaan.

Bab 12 kembali menegaskan hubungan antara filsafat sebagai landasan teori pendidikan. Filsafat membantu menjawab pertanyaan mendasar tentang mengapa pendidikan dilaksanakan, manusia seperti apa yang hendak dibentuk, pengetahuan apa yang penting, serta nilai apa yang perlu dikembangkan.

Bab 13 menjadi bagian yang sangat relevan bagi pembaca Indonesia karena membahas implikasi filsafat pendidikan dalam praktik pendidikan di Indonesia. Filsafat pendidikan dihubungkan dengan arah pendidikan nasional, kurikulum, kebijakan, dan praktik pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Bab terakhir, yaitu Bab 14, memberikan refleksi mengenai prospek filsafat dan teori pendidikan. Pendidikan diingatkan kembali sebagai proses pemanusiaan. Pendidikan tidak semestinya direduksi menjadi sekadar pencapaian akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter, dan memiliki kesadaran etis.


Kelebihan Buku

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah cakupan pembahasannya yang luas. Buku tidak berhenti pada pembahasan filsafat secara konseptual, tetapi menghubungkan filsafat dengan teori belajar, perkembangan peserta didik, kurikulum, manajemen pendidikan, teori sosial, hingga praktik pendidikan di Indonesia. Dengan cakupan tersebut, pembaca memperoleh gambaran yang relatif utuh mengenai hubungan antara filsafat, teori, dan praktik pendidikan.

Kelebihan berikutnya adalah sistematika pembahasan yang cukup terstruktur. Empat belas bab disusun dari konsep yang bersifat fundamental menuju pembahasan yang semakin aplikatif. Pembaca terlebih dahulu diajak memahami hakikat pendidikan dan dasar filsafat, kemudian diperkenalkan dengan aliran dan tokoh filsafat, sebelum diarahkan pada teori belajar, perkembangan, kurikulum, manajemen, teori sosial, dan praktik pendidikan Indonesia.

Buku ini juga memiliki kelebihan dalam menghadirkan pemikiran tokoh-tokoh pendidikan dari berbagai tradisi. Kehadiran Plato, Aristoteles, Dewey, Montessori, Freire, dan Ki Hadjar Dewantara memperlihatkan bahwa perkembangan pemikiran pendidikan merupakan hasil dialog panjang berbagai pemikiran. Penyertaan Ki Hadjar Dewantara juga memberikan konteks lokal sehingga pembahasan tidak sepenuhnya bergantung pada pemikiran Barat.

Kelebihan lainnya adalah adanya upaya menjembatani konsep filosofis dengan persoalan pendidikan modern. Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang abstrak dan sulit diterapkan. Buku ini berusaha menunjukkan bahwa pertanyaan filosofis memiliki konsekuensi terhadap cara pendidik memahami peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran, mengembangkan kurikulum, dan melaksanakan pendidikan.

Bagi mahasiswa pendidikan, buku ini juga bermanfaat karena dapat berfungsi sebagai referensi konseptual ketika mempelajari mata kuliah filsafat pendidikan, landasan pendidikan, teori belajar, maupun teori pendidikan. Sementara bagi dosen dan praktisi pendidikan, buku ini dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat kembali alasan filosofis di balik berbagai praktik pendidikan.


Kekurangan Buku

Meskipun memiliki cakupan yang luas, keluasan materi sekaligus dapat menjadi keterbatasan buku. Banyaknya topik yang dibahas dalam 14 bab menyebabkan beberapa konsep berpotensi hanya mendapatkan pembahasan secara ringkas. Pembaca yang ingin memahami filsafat tertentu secara mendalam mungkin masih memerlukan referensi tambahan dari karya-karya primer maupun buku khusus mengenai tokoh atau aliran filsafat tertentu.

Kekurangan lainnya adalah jarak antara konsep filosofis dan contoh praktik konkret masih dapat diperdalam. Buku sudah berusaha menghubungkan filsafat dengan praktik pendidikan, khususnya pada Bab 13, tetapi pembaca akan lebih terbantu apabila setiap konsep filosofis disertai contoh kasus pendidikan yang lebih spesifik, misalnya persoalan pembelajaran di sekolah dasar, pendidikan inklusif, pembelajaran berdiferensiasi, penggunaan teknologi dan AI, atau persoalan etika pendidikan pada era digital.

Selain itu, bagi pembaca yang baru pertama kali mempelajari filsafat, sejumlah istilah seperti ontologi, epistemologi, aksiologi, pragmatisme, eksistensialisme, dan nihilisme tetap membutuhkan penjelasan yang lebih sederhana dan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut penting agar buku tidak hanya menjadi referensi akademik, tetapi juga dapat menjangkau pembaca pemula.

Buku juga dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menghadirkan perbandingan pemikiran secara lebih eksplisit. Misalnya, pemikiran Dewey, Montessori, Freire, dan Ki Hadjar Dewantara dapat dibandingkan berdasarkan tujuan pendidikan, posisi peserta didik, peran pendidik, konsep belajar, dan hubungan pendidikan dengan masyarakat. Penyajian seperti itu akan membantu pembaca melihat persamaan dan perbedaan antar pemikiran secara lebih mudah.

Namun, kekurangan tersebut lebih tepat dipandang sebagai ruang pengembangan daripada kelemahan yang mengurangi fungsi utama buku. Sebagai buku referensi yang berusaha mencakup wilayah filsafat dan teori pendidikan secara luas, keterbatasan kedalaman pada beberapa topik merupakan konsekuensi dari luasnya cakupan pembahasan.


Penutup

Buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoretis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern karya Dr. Teguh Triwiyanto, S.Pd., M.Pd. merupakan buku referensi yang berusaha menghadirkan filsafat pendidikan dalam hubungan yang erat dengan teori dan praktik pendidikan. Buku ini tidak hanya membahas filsafat sebagai kumpulan pemikiran abstrak, tetapi mengajak pembaca memahami bagaimana pandangan tentang manusia, pengetahuan, nilai, dan kehidupan berpengaruh terhadap tujuan serta praktik pendidikan.

Keempat belas bab dalam buku memperlihatkan alur pembahasan yang cukup komprehensif, mulai dari hakikat pendidikan, dasar-dasar filsafat, aliran dan tokoh filsafat, filsafat kontemporer, teori belajar dan perkembangan, kurikulum, manajemen, teori sosial, hingga implikasinya dalam konteks pendidikan Indonesia. Dengan demikian, buku ini memiliki relevansi bagi pembaca yang ingin memahami pendidikan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi filosofis.

Buku ini terutama sesuai untuk mahasiswa program studi kependidikan, mahasiswa sarjana dan pascasarjana, dosen, guru, pengelola pendidikan, serta pemerhati pendidikan. Bagi mahasiswa, buku ini dapat menjadi pijakan awal untuk memahami filsafat pendidikan dan keterkaitannya dengan berbagai teori pendidikan. Bagi pendidik, buku ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk mempertanyakan kembali tujuan, nilai, dan arah praktik pendidikan yang selama ini dilakukan.

Pada akhirnya, kekuatan utama buku ini terletak pada upayanya mengingatkan pembaca bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas menyampaikan pengetahuan atau mencapai target akademik. Pendidikan berkaitan dengan proses membentuk manusia dan cara manusia memahami dirinya serta dunia. Karena itu, memahami filsafat pendidikan menjadi penting agar praktik pendidikan tidak kehilangan arah, nilai, dan tujuan kemanusiaannya.


Sumber : Dina Nur Abidah

Editor : Dr. Surayanah, M. Pd.

Posting Komentar

0 Komentar