Ad Code

Hubungi Admin=>

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI CAKRAWALA BELAJAR

Saccharum Dignitas: Transformasi Potensi Lokal dan Penguatan Masa Depan Siswa

Cakrawalabelajar | Senin, 19 Januari 2026

Program Saccharum Dignitas merupakan inisiatif pendampingan siswa sekolah menengah atas yang dirancang untuk menjawab permasalahan rendahnya kepercayaan diri, serta keterbatasan keberlanjutan keterampilan yang dimiliki siswa. Program ini dikembangkan dengan pendekatan holistik yang memadukan penguatan aspek kewirausahaan dan edukasi kesehatan mental melalui pemanfaatan potensi lokal sebagai media pembelajaran kontekstual yang diintegrasikan dengan pemanfaatan media sosial Instagram sebagai sarana literasi digital, ekspresi diri, dan penguatan citra positif siswa. Secara konseptual, Saccharum Dignitas berangkat dari pandangan bahwa siswa tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga pengalaman bermakna, baik dalam proses produksi maupun publikasi digital yang mampu membangun rasa percaya diri, identitas positif, serta orientasi masa depan yang jelas.
Saccharum Dignitas Project 

Implementasi program Saccharum Dignitas dilaksanakan melalui tahapan yang terstruktur dan berkelanjutan. Tahapan tersebut meliputi koordinasi tim, pra pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Pembagian tahapan ini disusun untuk memastikan keterpaduan antara perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sehingga kegiatan dapat berjalan secara sistematis dan efektif. Setiap tahap memiliki peran yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan dalam mendukung pencapaian tujuan program serta keberlanjutan dampak bagi sekolah sebagai mitra. 

Tahap koordinasi tim merupakan langkah awal dalam pelaksanaan program Saccharum Dignitas yang bertujuan untuk memastikan kesiapan internal tim pengusul. Tahap ini meliputi pembentukan struktur tim, pembagian peran dan tanggung jawab anggota, serta penyamaan persepsi terkait tujuan, sasaran, dan strategi pelaksanaan program. Penetapan peran ini dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan program dapat berjalan terarah, terkoordinasi, dan efektif, sekaligus meminimalkan tumpang tindih tugas selama pelaksanaan program di sekolah mitra.

Tahap pra pelaksanaan difokuskan pada penggalian permasalahan dan perencanaan program secara komprehensif. Kegiatan diawali dengan analisis permasalahan melalui observasi lingkungan sekolah dan sosial serta wawancara dengan guru beserta kepala sekolah untuk memperoleh gambaran kondisi riil mitra. Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim melakukan perencanaan program Saccharum Dignitas melalui koordinasi intensif dengan pihak mitra terkait tujuan, sasaran, alur kegiatan, serta integrasi program dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Selain itu, pada tahap ini dilakukan pengembangan media dan perangkat program, termasuk pembuatan akun Instagram sebagai sarana literasi digital dan publikasi kegiatan, serta penyusunan buku pedoman mitra sebagai panduan pelaksanaan program. Tahap pra pelaksanaan ditutup dengan kegiatan sosialisasi kepada pihak mitra untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai konsep, manfaat, dan teknis pelaksanaan program.

Kemudian, tahap pelaksanaan yang merupakan tahap inti program. Tahap ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan bimbingan teknis, pelatihan, dan pendampingan yang dirancang secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi siswa. Kegiatan diawali dengan bimbingan teknis edupreneurship berbasis potensi lokal tebu dan literasi digital yang dilaksanakan selama satu hari. Bimbingan teknis ini diarahkan untuk membangun pola pikir (mindset) siswa agar mampu memandang stigma negatif lingkungan sosial secara produktif dan konstruktif melalui edupreneurship berbasis potensi lokal. Pada tahap ini, siswa diperkenalkan pada konsep pengolahan tebu sebagai identitas desa, penguatan kesehatan mental untuk menerima realitas sosial secara sehat, serta pembentukan kepercayaan diri. Sebagai implementasi awal literasi digital, siswa mulai mengelola akun Instagram resmi program dengan mengunggah refleksi harapan dan pandangan positif tentang desa mereka. Evaluasi pada kegiatan bimbingan teknis ini dilakukan dengan mengerjakan soal pretest dan posttest pemahaman edupreneurship, kesehatan mental, dan kepercayaan diri.

Tahap selanjutnya adalah pelatihan produksi kerupuk tebu dan pembuatan konten edupreneurship berbasis Instagram yang dilaksanakan selama tiga hari. Pada tahap ini, siswa mempraktekkan secara langsung proses produksi kerupuk tebu sekaligus membuat konten edukatif dan promosi digital yang mendokumentasikan proses serta hasil produk. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan produksi, literasi digital, serta keberanian siswa tampil di ruang publik melalui media sosial Instagram. Nilai edupreneurship ditanamkan melalui kerja tim dan inovasi produk, sementara aspek kesehatan mental diperkuat melalui pengelolaan emosi selama proses produksi dan kolaborasi. Kepercayaan diri siswa dibangun melalui keberanian menampilkan hasil karya dan identitas diri secara positif di Instagram. Pada kegiatan pelatihan, evaluasi dilakukan dengan angket tentang edupreneurship, kesehatan mental, dan kepercayaan diri.

Tahap terakhir dalam pelaksanaan adalah pendampingan usaha kerupuk tebu, branding digital, dan penguatan mental sosial yang dilakukan secara berkelanjutan selama tiga bulan. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan siswa mampu mengelola usaha dan akun Instagram secara mandiri dan konsisten. Pada tahap ini, edupreneurship diperkuat melalui pengambilan keputusan usaha, pengelolaan branding digital melalui Instagram, serta strategi keberlanjutan. Aspek kesehatan mental difokuskan pada refleksi diri, adaptasi sosial, dan ketahanan menghadapi tekanan serta stigma negatif yang bersifat turun-temurun. Selama tahap pendampingan, evaluasi dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk mengukur perubahan pemahaman edupreneurship, kesehatan mental, kepercayaan diri, dan kesiapan siswa dalam berwirausaha.

Setelah tahap pelaksanaan, tahap terakhir adalah tahap pasca pelaksanaan. Tahap pasca pelaksanaan meliputi kegiatan monitoring dan evaluasi untuk menilai capaian, efektivitas, serta kendala pelaksanaan program Saccharum Dignitas. Selain itu, pada tahap ini dilakukan penguatan keberlanjutan program melalui pembentukan program unggulan sebagai identitas dan branding mitra, serta penjajakan kerja sama dengan Pemerintah Desa serta dunia usaha dan industri. Tahap pasca pelaksanaan diakhiri dengan penyusunan laporan kemajuan dan laporan akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan administratif atas pelaksanaan program.

Keefektifan program ini ditunjukkan oleh hasil evaluasi internal yang memperlihatkan peningkatan kepercayaan diri siswa setelah mengikuti rangkaian kegiatan, yang ditandai dengan keterlibatan aktif siswa dalam proses pendampingan, meningkatnya keberanian untuk berekspresi, serta tumbuhnya kesiapan berwirausaha berbasis potensi lokal. Temuan tersebut diperkuat melalui hasil pretest dan posttest, angket, serta observasi selama proses pendampingan yang menunjukkan perubahan sikap positif, kepercayaan diri yang lebih stabil, dan kemampuan siswa dalam merancang rencana pengembangan diri. Dengan demikian, Saccharum Dignitas terbukti efektif sebagai model pendampingan siswa yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada penguatan mental, pendidikan, dan kepercayaan diri secara berkelanjutan.

Sumber : Dina dkk.
Editor : Surayanah

Posting Komentar

0 Komentar